Wirid dan Amaliah Rabu Akhir Bulan Safar

                        Oleh: Tgk. Helmi Abu Bakar El-Langkawi, M. Pd*

Era pandemi Covid-19, kita kembali berada di penghujung bulan Safar. Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu bulan dalam kelender Hijriah bernama bulan Safar. Allah SWT menjadikan setiap bulan sesuai dengan wajah tasmiah (alasan penamaan), seperti bulan yang diharamkan untuk berperang dinamai dengan bulan muharram, bulan saat pepohonan berduri dikenal dengan bulan rajab, begitu juga dengan bulan Safar, wajah tasmiah safar, disebabkan pada bulan itu orang arab meinggalkan rumah rumah mereka dalam keadaan kosong SWT menjadikan bulan Safar juga sebagai salah satu bulan yang mulia atau yang lebih dikenal dengan nama Safarul khairi. (kitab Hawasyi Syarwani, jld 3, hal 371).

Dalam bulan safar terdapat satu hari yang dikenal oleh sebgaian masyrakat dengan hari pembawa sial tepatnya hari rabu. Masyarakat Aceh menyebutnya dengan rabu abeh (rabu terakhir bulan safar), di jawa popular dengan rabu wekasan dan masih banyak ditempat lainnya. Salah satu prinsip dasar yang wajib diyakini bahwa berbagai bencana, musibah dan mara bahaya yang terjadi di dunia ini semuanya berdasarkan qadha dan qadar sang khalik yakni Allah SWT. Penyebab turunnya berbagai musibah pada rabu terakhir safar (rabu abeh) itu bukan diri rabu abehnya, juga bukan bulan safarnya serta tangan-tangan lain ghairullah, tetapi semuanya telah ada pada qadha dan qadar Allah SWT.

Penulis mencoba menghimpun beberapa amalan Rabu akhir Safar dari kitab para ulama terdahulu semoga bermanfaat:

Pertama, Membaca surat Al-Falaq dan doanya.

Al-Imam Al-Habib idrus bin Umar Al-Habsyi berkata: “dianjurkan pada hari Rabu akhir Safar untuk membaca surat Al-Falaq pada empat arah dengan tata cara sebagai berikut: Membaca doa: Allahumma inni uqaddimu ilaika baina yadayya, wayadi auladii wa ahlii, kemudian mengahdap ke arah sebelah kanan seraya membaca: wa’an yaminii wa aimanihim kemudian membaca surat Al-Falaq dan diakhiri doa fallahu khairun hafidhan wahuwa arhamurrahimin. Kemudian menghadap kea rah sebelah kiri seraya membaca: wa’an syimalii wa syamailihim setelah itu membaca Al-Falaq dan doa fallahu khairun hafidhan wahuwa arhamurrahimin. Kemudian mengadap ke arah sebelah belakang seraya membaca: wa min khalfii wa khalfihim dan setelah itu membaca Al-Falaq dan doa fallahu khairun hafidhan wahuwa arhamurrahimin. Kemudian menghadap kea rah sebelah depan seraya membaca wa min amaami wa amamihum setelah itu membaca Al-Falaq dan doa fallahu khairun hafidhan wahuwa arhamurrahimin. Kemudian mengahdap ke arah atas seraya memabaca wa min faiqii wa fauqihim setelah itu membaca Al-Falaq dan doa fallahu khairun hafidhan wahuwa arhamurrahimin.Kemudian mengadap ke arah bawah seraya membaca wa min rahti wa tahtihim setelah itu membaca Al-Falaq dan doa fallahu khairun hafidhan wahuwa arhamurrahimin. Setelah itu membaca doa wamislu zalika muhithun bii wa bihim wabima ahathna bihi, kemudian setelah itu membaca Al-Falaq dan doa fallahu khairun hafidhan wahuwa arhamurrahimin.

Kedua, shalat sunat Rabu Akhir Safar, penulis menghimpun dari beberpaa redaksi ada dua versi, pertama shalat sunat 4 rakaat, (bisa dikerjakan dua kali salam atau sekali salam). Kedua, enam rakaat. Pada setiap rakaat pertama sesudah Al-Fatihah di baca ayat kursi dan setiap rakaat kedua surat Al-ikhlas. Sesudah shalat di baca doa:

(اللَّهُمَّ) إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى، وَبِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ أَنْ تَحْفَظَنِي وَأَنْ تُعَافِيَنِيْ مِنْ بَلَائِكَ، يَا دَافِعَ البَلَايَا، يَا مُفَرِّجَ الهَمّ، ويَا كَاشِفَ الغَمّ، اِكْشِفْ عَنِّي مَا كُتِبَ عَلَيَّ فِي هذه السنةِ مِنْ هَمٍّ أو غَمٍّ؛ إنَّكَ على كل شيء قديرٌ، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما)

Ketiga, Membaca Shalawat Munjiyat. Setelah selesai membaca surah Yasin, hendaklah membaca Shalawat Munjiyat sebanyak 11 kali, yaitu :

أَللَّهُمَّ صَلِّى عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِيْناَ بِهاَ مِنْ جَمِيْعِ اْلأَهْوَالِ وَ اْلآفاَتِ وَ تُقْضِي لَناَ بِهاَ مِنْ جَمِيْعِ الْحَاجَاتِ وَ تُطَهِّرُناَ بِهاَ مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئاَتِ وَ تَرْفَعُناَ بِهاَ عِنْدَكَ أَعْلىَ الدَّرَجاَتِ وَ تُبَلِّغُناَ بِهَا أَقْصَى اْلغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ اْلخَيْرَاتِ فىِ الْحَياَتِ وَ بَعْدَ اْلمَمَاتِ إِنَّكَ عَلىَ كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

Selesai membaca shalawat Munjiyat ditutup dengan doa:

(اللهم) اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَرْضِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قديرٌ، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Keempat, Sebelum melakukan mandi bulan Shafar baiknya menulis sebuah ayat di lembaran untuk dibuat mandi dan dibuat minum. Dan siapa saja yang mandi dengan air yang direndam ayat tadi atau meminumnya, Allah akan mengamankan dari musibah yang akan turun hari rabu diakhir bulan shafar sampai sempurnya tahun.Berikut ayatnya:

سَلاَمٌ قَوْلاَ مِنْ رَبِّ الرَّحِيْمِ * سَلاَمٌ عَلَى نُوْحٍ فِى العَالَمِيْنَ

سَلاَمٌ عَلَى اِبْراهِيْمَ * سَلاَمُ عَلَى مُوْسَى وَهاَرُوْنَ

سَلاَمٌ عَلَى اِلْيَاسَ * سَلاَمٌ عَلَى المرْسَليْنَ

سلاَمٌ عَلَــيْكُمْ طِبْــتــُمْ فَادْخُــلُوْهَا خَـالِدِيْنَ * سَلاَمٌ هِىَ حَتَّى مَطْلَعِ الفَجرِ

Kelima, Mandi bulan Shafar dengan niat:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ عَنْ شَهْرِ صَفَرَ وَ أَنْ يَمْضِيَ عَنْ فِتْـنَةِ الدَّجَّالِ سُنَّةً للهِ تَعاَلىَ

Sahaja saya mandi pada bulan Shafar agar dijauhkan dan dipelihara oleh Allah Swt daripada bala dan penyakit serta fitnah dajjal, sunnat karena Allah Swt.”

Adapun terkait dengan sikap sebagian ‘Ulama yang menyatakan bahwa amalan ini hanya bersumber dari ilhamnya para ‘Ulama shalih dan bukan dari hadits Nabi Muhammad Saw, hal tersebut bukanlah suatu hal yang perlu dipermasalahkan karena berita tentang turunnya bala bencana bisa saja diucapkan oleh seorang ‘Ulama shalih dari ilhamnya dan hal ini tidak bertentangan dengan syari’at Nabi Muhammad Saw, bahkan telah disepakati keberadaannya seperti disebutkan dalam al-Qur`an.

Keenam, Membaca Surat Yasin (kalau sanggup bacalah Yasin Fadhilah). Seorang ulama shalihin menyebutkan bahwa hari Rabu terakhir bulan Shafar merupakan hari yang penuh dengan bala, maka disunnahkan pada hari itu membaca surah Yasin, dan ketika sampai pada bacaan “سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبِّ الرَّحِيْمْ” hendaklah mengulangnya sebanyak 313 kali.

وذكر بعض الصالحين أنّ آخر أربعاء في صفر يوم نَحْس مستمر فيستحب أن يقرأ فيه سورة يس، فإذا وصل إلى قوله تعالى: (سلامٌ قولاً من رب رحيم) يكررها (ثلاثمائة وثلاث عشرة مرة

Tgk. Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Dosen IAIA Samalanga dan Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga.

Dikutip dari Kitab Al-Kunuzu Al-Hashinah Fi Al-‘Ad’iyati Al-Tsaminah dan lainnya